MASA DEPAN DIMULAI DARI SEKARANG DARI SSB HAPPYLIFE MEMBANGUN INDONESIA YANG SEHAT SUKSES BAHAGIA
LOGO HL PNG

Penyakit Jantung pada dewasa dan anak, Bisakah dicegah sejak dini?
Ini penjelasan Ahli

Selasa, 19 Jul 2022 16:06 WIB

KLIKSSB.com – Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia, dan kebanyakan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Prediksi untuk ke depan akan menjadi 23 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular per tahun pada tahun 2030, dan akan menjadi penyebab utama kematian.

Saat ini terdapat sekitar 17 juta kematian per tahun akibat penyakit ini dan merupakan 31 persen dari seluruh kematian di dunia.

Disampaikan oleh Prof Dr dr Sukman Tulus Putra, SpA(K), FACC, FESC, Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Secara umum, manifestasi klinis penyakit kardiovaskular terjadi pada orang dewasa dan lansia sebelum usia 60 tahun. Namun, proses patogenesis aterosklerosis yang menyebabkan penyakit kardiovaskular telah terjadi sejak usia dini, terutama pada masa kanak-kanak dan remaja.

Dengan demikian, faktor risiko kardiovaskular dapat dideteksi pada masa kanak-kanak dan remaja yang sangat terkait dengan perkembangan proses aterosklerosis pada masa usia remaja dan dewasa. Oleh karena itu, deteksi individu terhadap faktor risiko kardiovaskular dan intervensi pada masa kanak-kanak dan remaja merupakan strategi yang sangat penting untuk mengurangi risiko PKV di usia dewasa.

Menurut WHO di Indonesia tahun 2016, penyakit jantung merupakan 35 persen dari seluruh kematian yang berjumlah 1.863.000, disusul oleh kanker (12 persen) dan penyakit tidak menular lainnya.

Prof Dr Sukman Tulus Putra, SpA(K) mengatakan, meski belum ada studi epidemiologi yang komprehensif di Indonesia, beberapa penelitian pada anak sekolah menunjukkan faktor risiko kardiovaskular yang tinggi pada anak.

Identifikasi dan intervensi faktor-faktor tersebut pada anak dan remaja merupakan upaya untuk mencegah dan menurunkan angka kejadian penyakit kardiovaskular termasuk penyakit jantung koroner.

Pada kasus penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh aterosklerosis, semakin banyak faktor risiko, semakin tinggi pula morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular.

Adapun faktor risiko kardiovaskular dikelompokkan dalam 3 bagian, yakni: faktor risiko yang dapat diubah (modifiable/ changeable), disebut juga sebagai faktor risiko tradisional meliputi hiperlipidemia, obesitas, inaktivitas/sedentary, diabetes melitus, merokok dan hipertensi, juga ada faktor risiko intrinsik meliputi genetik, lingkungan dan suscestibility, serta faktor risiko yang baru muncul (emerging risk factors) meliputi inflamasi/infeksi sistemik, sitokine, CRP dan homosistein.

Faktor risiko yang ada pada individu akan menyebabkan disfungsi endotel vaskular yang mengakibatkan penurunan produksi NO, peningkatan respon inflamasi endotel dan hiperplasia intima yang pada akhirnya akan membentuk lesi aterosklerotik yang akan menyebabkan penyakit jantung koroner. Prosesnya terjadi perlahan tapi pasti selama beberapa dekade kehidupan.

Ada 3 fokus utama yang dapat mencegah faktor risiko kardiovaskular pada anak dan remaja dari aspek promosi kesehatan, yaitu: nutrisi, aktivitas fisik, dan paparan tembakau (rokok).

Nutrisi sejak bayi berupa pemberian ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan, ternyata anak usia sekolah menengah (remaja) memiliki ketebalan intima media arteri karotis yang lebih tipis dan berbeda nyata dibandingkan pada remaja yang pada masa bayi minum lebih sedikit susu formula atau ASI kurang dari 4 bulan.

Hal ini membuktikan bahwa nutrisi yang baik untuk anak sejak dini dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis di kemudian hari. Sementara itu, anak-anak yang tidak aktif atau kurang (sedentary lifestyle) dan paparan tembakau yang berlebihan terbukti meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama penyakit jantung koroner yang saat ini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

“Deteksi faktor risiko kardiovaskular melalui uji tapis pada usia anak dan remaja, dan strategi untuk melakukan intervensi merupakan kunci utama dalam menurunkan angka kejadian PKV di usia dewasa dan lanjut. Masih tingginya angka kematian akibat PKV di Indonesia saat ini mungkin akibat minimnya kesadaran untuk mendeteksi dan mengintervensi faktor risiko kardiovaskular sejak usia dini, dan remaja pada sekitar 90 juta anak Indonesia. Sehingga diperlukan strategi dan langkah yang konkret dengan melibatkan semua sektor terkait, dari sektor kesehatan, pendidikan, organisasi profesi dan masyarakat itu sendiri,” kata Prof Dr dr Sukman Tulus Putra, SpA(K) yang juga ketua Purna Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/6/2022).

Berikut adalah tips menjaga kesehatan jantung sejak dini dari dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) – Spesialis kardiologi anak dan juga Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia:

Aktif bergerak

Ajak anak untuk berolahraga ringan dimulai dari jalan kaki Bersama, bersepeda, berenang, ataupun bermain di luar ruang terbuka.

Bersikaplah positif

Jadikan kesehatan jantung menyenangkan dengan memasukkan permainan ke dalam aktivitas keluarga Anda atau berjalan-jalan ke taman untuk piknik makan malam yang sehat.

Batasi waktu menonton atau di depan komputer

Waktu menonton yang berlebihan menyebabkan gaya hidup yang tidak banyak bergerak dan mengudap terus-menerus, yang meningkatkan risiko obesitas dan penyakit kardiovaskular. Batasi waktu menonton TV, komputer, dan telepon hingga dua jam setiap hari.

Lakukan pemeriksaan rutin sedari dini

Sejak lahir, kesehatan jantung bayi sudah bisa dimonitor secara rutin melalui Echo kardiografi atau Echo Jantung. Alat ini dapat mendeteksi secara dini apabila terdapat kelainan pada jantung anak sehingga bisa dilakukan pencegahan atau penanganan sedari awal. Konsultasikan lebih jauh dengan dokter anak Anda untuk memantau indikator kardiovaskular seperti BMI, tekanan darah, dan kolesterol.

Atur menu makan sehat anak

Utamakan asupan protein hewani untuk cegah stunting dan agar pertumbuhan anak optimal. Batasi seminimal mungkin snack junk food yang tinggi gula dan tinggi karbohidrat cepat serap untuk mencegah obesitas dan sindrom metabolik

Periksa asupan garam dan MSG

Hindari makanan olahan dan jauhkan tempat garam dan MSG dari meja makan.

Bersikaplah realistis

Tetapkan tujuan dan batasan yang realistis. Langkah-langkah kecil dan perubahan bertahap dapat membuat perbedaan besar dalam kesehatan anak Anda dari waktu ke waktu, jadi mulailah dari yang kecil dan tingkatkan.

“Tidak ada satupun penyakit yang tidak bisa disembuhkan, tetaplah berpikiran positif dan yakinlah pada keajaiban Tuhan.”

Demikian informasi artikel kesehatan penyakit jantung pada dewasa dan anak yang dapat dilakukan pencegahan sejak dini, semoga bermanfaat.***

Klik tombol WhatsApp di pojok kanan bawah dari layar Mobile atau PC Anda

Temukan dan Ikuti Kami di Sosial Media